pic
Kalimantan Timur memang ditakdirkan untuk menjadi pelopor peradaban di Indonesia. Sejarah membuktikan hal itu, karena diwilayah ini lah ditemukan kerajaan tertua di Indonesia yakni kerajaan Mulawarman yang terletak di Kecamatan Muara kaman. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad IV Masehi. dengan rajanya yang terkenal MUlawarman Nala Dewa. Kekuasaan keturunan raja Mulawarman berlanjut hingga raja ke-25 yang bernama Maharaja Derma Setia ( Abad XXIII M ) Menjelang kekuasaan dinasti mulawarman mulai pudar, diwilayah kaltim telah berdiri beberapa kerajaan. Dimulai dengan kerajaan K...
pic
Kendati ini adalah catatan kecil agar  bermanfaat bagi pribadi dan untuk bagi yang ingin mencari informasi seputaran lokasi objek wisata. Nama tempatnya adalah Kabupaten Paser yang terletak paling Selatan dari wilayah Propinsi Kalimantan Timur. Potensi yang ada di Kabupaten tersebut dapatlah dikatakan cukup layak untuk di kembangkan sebagi salah satu pendapatan daerah. Berdasarkan lokasi di Kabupaten Paser terdapat 19 objek wisata yang dikembangkan, yaitu: Objek wisata alam Telaga Air Panas dan Goa Jurong di Kecamatan Longkali, Air Terjun Tiwei di Longikis, Air Terjun Gerigu...
pic
Tanaman Karet di Kalimantan Timur merupakan komoditi tradisional yang sudah relatif lama diusahakan sebagai perkebunan rakyat, namun karena pengaruh harga yang berfluktuasi sangat tajam usaha perkaretan beberapa waktu yang lalu sempat ditinggalkan oleh petani perkebunan untuk beralih kepada usaha lain yang dianggap lebih menguntungkan. Namun saat ini seiring dengan semakin membaiknya harga karet di pasaran komoditi karet kembali banyak diusahakan oleh masyarakat dan di beb...
pic
PROSPEK SUMBERDAYA BATUBARA DI KABUPATEN KUTAI TIMUR BAGIAN BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Oleh: Dahlan Ibrahim SUBDIT BATUBARA ABSTRACT The Western part of East Kutai District, East Kalimantan Pronvince have an interesting coal potential. This area is in the Nothern part of Kutai Basin that consist of Tertiary sediment of Marah Formation, Batuayau Formation, Wahau Formation and Balikpapan Formation in Eocene until Mio- Pliocene Age. The unconformity among Batuayau, Wahau and Balikpapan Formation caused by tectonic activity in Oligocene, Miocene and Pliocene. Coal bearing formation...
pic
Pulau Kalimantan memang dianugerahi berbagai macam sumber daya alamnya dan lahan perkebunan yang luas. Kelapa sawit salah satunya. Usaha perkebunan kelapa sawit merupakan potensi bisnis perkebunan kalimantan yang sangat menguntungkan. Kelapa sawit sangat bermanfaat mulai dari industri makanan sampai industri kimia. Industri makanan mentega, shortening, coklat, additive, ice cream, pakan ternak, minyak goreng, produk obat–obatan dan kosmetik, krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin and beta carotene juga memerlukan minyak sawit. Industri berat dan ringan, industri kulit (untuk membu...
Aug

13

Kalimantan Timur memang ditakdirkan untuk menjadi pelopor peradaban di Indonesia. Sejarah membuktikan hal itu, karena diwilayah ini lah ditemukan kerajaan tertua di Indonesia yakni kerajaan Mulawarman yang terletak di Kecamatan Muara kaman. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad IV Masehi. dengan rajanya yang terkenal MUlawarman Nala Dewa. Kekuasaan keturunan raja Mulawarman berlanjut hingga raja ke-25 yang bernama Maharaja Derma Setia ( Abad XXIII M )

Menjelang kekuasaan dinasti mulawarman mulai pudar, diwilayah kaltim telah berdiri beberapa kerajaan. Dimulai dengan kerajaan Kutai Kartanegara di Jaetan Layar ( sekarang masuk wilayah kutai lama ). lalu berdiri pula kerajaan Gunung Tabur dan kerajaan sambaliung ( kab. berau ), kerajaan Tanjung palas ( Kab. Bulungan ) serta kerajaan sandurangas ( Kab. Pasir ). Kerajaan-kerajaan tersebut menjalankan pemerintahan di wilayah masing-masing dan sejarah tidak mencatat adanya sengketa serius antar kerajaan tersebut, hingga masuk orang Belanda yang menjajah kaltim sejak tahun 1844.

Pemerintah Kolonial belanda membentuk Federasi Kalimantan Timur yang merupakan gabungan empat kerajaan di kalimantan timur. Ketika republik Indonesia berdiri tanggal 17 agustus 1945, federasi kaltim ini secara hukum masuk wilayah RI dan rakyat kaltim pun meamng memilih brgabung dengan RI. Pada masa perjuangan fisik ( 1945-1949) rakyat Kaltimpun turut berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dengan puncaknya peristiwa “Sanga-sanga” ( januari 1947 ) yang dikenal dengan peristiwa Merah putih.

Aug

12

Pesona Wisata Di paser
Posted by isnaini

Kendati ini adalah catatan kecil agar  bermanfaat bagi pribadi dan untuk bagi yang ingin mencari informasi seputaran lokasi objek wisata. Nama tempatnya adalah Kabupaten Paser yang terletak paling Selatan dari wilayah Propinsi Kalimantan Timur. Potensi yang ada di Kabupaten tersebut dapatlah dikatakan cukup layak untuk di kembangkan sebagi salah satu pendapatan daerah.
Berdasarkan lokasi di Kabupaten Paser terdapat 19 objek wisata yang dikembangkan, yaitu:

Objek wisata alam
Telaga Air Panas dan Goa Jurong di Kecamatan Longkali, Air Terjun Tiwei di Longikis, Air Terjun Gerigu di desa Samuntai Longikis, Air terjun Batu Badinding desa Rangan Barat di Kuaro, Air Terjun Doyam Seriam desa Modang Kuaro, Air terjun Doyam Toru desa Lempesu Paser Balengkong serta Air terjun Rantau Buta dan air terjun gunung rambutan di kecamatan Batu Sopang, Goa alam Loyang di Kecamatan Batu Sopang, Liang atau Goa Losan di Muara Komam, Liang Mangkulangit di muara Komam, Pasi panti di Tanjung harapan dan Pulau Batu Kapal di Tanjung Harapan.

Objek wisata Sejarah
Museum Sadurangas, Batu Indra Giri dan Meriam, Komplek makam raja dan kesultanan Paser yang kesemuanya berada di kecamatan Paser Balengkong. Selain itu juga terdapat Goa Tengkorak di desa Kasungai Kecamatan Batu Sopang.

Objek Wisata Buatan
Agro wisata Trubus Sari desa Padang Pengrapat Kecamatan Tanah Grogot dan Taman Hutan Raya Lati Petangis Kecamatan Batu Engau.

Objek wisata Seni dan Budaya
Kabupaten Paser kaya akan potensi seni dan budaya yang hidup dalam masyarakat kabupaten Paser, baik yang berkembang dikalangan penduduk asli maupun suku lainyang telah lama tinggal atau bermukim di Kabupaten Paser. Beberapa contoh kegiatan seni dan budaya yang hidup di kalangan masyarakat, antara lain Tari Ronggeng Paser dan Tater Tradisional Pasaer atau Nalau.
Selanjutnya adalah Tari Rembara, Tari Gantar, Gendang Agung, Upacara adat Nulak, Jakit, Petikan Gambus Irama Pesisir, Japen Muslim, Tari Singkir, Jepen Daya Taka, Tari Belian atau Mamulia Ngadep Klusan, Upacara adat Paser atau Nyambut Taun Nengkuat Longan Nangsang dan pesta Laut Mappanre Tasi yang digelar setiap tahun oleh warga yang tinggal di kawasan pasisir.

Aug

12

Tanaman Karet di Kalimantan Timur merupakan komoditi tradisional yang sudah relatif lama diusahakan sebagai perkebunan rakyat, namun karena pengaruh harga yang berfluktuasi sangat tajam usaha perkaretan beberapa waktu yang lalu sempat ditinggalkan oleh petani perkebunan untuk beralih kepada usaha lain yang dianggap lebih menguntungkan. Namun saat ini seiring dengan semakin membaiknya harga karet di pasaran komoditi karet kembali banyak diusahakan oleh masyarakat dan di beberapa tempat komoditi tersebut merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakatnya.

Luas areal pertanaman karet saat ini (Angka Tetapi tahun 2009) tercatat seluas 75.924,50 Ha yang terdiri dari areal perkebunan rakyat 68.634 Ha, perkebunan besar negara sebesar 700 Ha dan perkebunan besar swasta 6.590,50 Ha dengan produksi seluruhnya berjumlah 49.620,50 ton.

Produk tersebut pada umumnya dipasarkan ke Banjarmasin untuk kebutuhan pabrik Crumb Rubber. Pusat pertanaman karet terbesar berada di Kabupaten Kutai Barat (Kecamatan Melak dan Barong Tongkok) yang dikembangkan oleh petani pekebun melalui proyek TCSSP bantuan dari Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). Areal penanaman karet lainnya yang cukup luas berada di Kecamatan Palaran dan Samarinda Ilir (Kota Samarinda), Kecamatan Balikpapan Timur dan Balikpapan Utara (Kota Balikpapan), Kecamatan Segah dan Talisayan (Kabupaten Berau), Kecamatan Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan), Kecamatan Kota Bangun, Marang Kayu, Samboja dan Muara Badak (Kecamatan Kutai Kartanegara). Selain itu juga terdapat kebun plasma milik petani pekebun di Kecamatan Long Kali (Kabupaten Paser) dan di Kecamatan Marang Kayu (Kabupaten Kutai Kartanegara) yang kedua – duanya merupakan binaan dari PTPN XIII. Perkebunan Karet milik perkebunan besar swasta terletak di Kabupaten Penajam Paser Utara milik PT. Majapahit Agroindustri Corp Ltd dan di Kabupaten Kutai Kartanegara milik PT. Hasfarm Product.

Perkembangan data statistik, produksi, produktivitas dan tenaga kerja perkebunan Kalimantan Timur komoditi karet tahun 2004 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Perkembangan Komoditi Karet Menurut Provinsi Kalimantan Timur

Tahun

Luas Areal (Ha) Jumlah

(Ha)

Produksi

(Ton)

Rata – Rata

Produksi

(Kg/Ha)

Tenaga

Kerja

Perkebunan

TBM

TBM

TT/TR

2009 30.076,00 40.266,00 5.582,50 75.924,00 49.620,50 1.232,32 51.249
2008 22.957,00 38.863,50 12.851,50 74.672,00 49.611,00 1.276,54 49.556
2007 16.607,50 38.171,00 13.112,50 67.891,00 47.225,50 1.237,21 44.693
2006 16.982,50 36.027,50 11.947,00 64.957,00 43.845,00 1.216,99 43.335
2005 16.232,00 33.664,50 12.529,50 62.426,00 39.341,00 1.168,62 41.729
2004 15.578,50 33.111,50 11.464,50 60.154,50 34.726,50 1.048,77 41.899

Sumber : Sub Bagian Perencanaan Program (Angka Tetap Tahun 2009, Juli 2010)


Pada tahun 2009 luas tanaman karet mencapai 75.924 Ha dibandingkan tahun 2005 yang luasnya masih 62.426 Ha, sehingga luas areal mengalami kenaikan 13.498 Ha (21,62 persen). Kenaikan luas areal tersebut dikarenakan terlaksananya program revitalisasi pada komoditi ini. Sejalan dengan pertambahan luas arealnya, maka produksi komoditi ini mengalami peningkatan pula. Pada tahun 2005, produksi karet sebesar 39.341 ton dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 49.620,50 ton berarti mengalami peningkatan sebesar 10.279,50 ton (26,13 persen).

Rata – rata pendapatan petani per hektarnya pada tahun 2009 adalah 1.232,32 kg per hektar x Rp. 3.542,- per kg = Rp. 4.364.877,- per hektar.

Aug

12

PROSPEK SUMBERDAYA BATUBARA
DI KABUPATEN KUTAI TIMUR BAGIAN BARAT
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Oleh: Dahlan Ibrahim
SUBDIT BATUBARA
ABSTRACT
The Western part of East Kutai District, East Kalimantan Pronvince have an interesting coal
potential. This area is in the Nothern part of Kutai Basin that consist of Tertiary sediment of Marah
Formation, Batuayau Formation, Wahau Formation and Balikpapan Formation in Eocene until Mio-
Pliocene Age. The unconformity among Batuayau, Wahau and Balikpapan Formation caused by
tectonic activity in Oligocene, Miocene and Pliocene.
Coal bearing formation in this area are Batuayau Formation, Wahau Formation and
Balikpapan Formation. Distribution of coal in those formations formed within synclinal fold ; the
direction of fold axis is North – South to Northeast – Southwest. There are two until five main coal
seams in those formations with maximum thickness is 26.80 m
No different coal quality evidence among the three formations. Coal of Batuayau Formation
characterized by ash content 2.26 -9.37% (adb, average 5.81%, Sulphur content 0.15 – 0.35% (adb),
average 0.21% and Calorific Value 5100 – 5620 cal/gr, average 5440 cal/gr. Coal of Wahau
Formation characterized by ash content 2.28-12.40 % (adb), average 4.96 %, Sulphur content 0,11-
0,45% (adb), average 0.17 % and Calorific Value 4870 -5595 cal/gr, average 5375 cal/gr. Coal of
Balikpapan Formation characterized by ash content 3.28 – 5.21 % (adb), average 4.19 %, Sulphur
content 0.11 – 0.18 % (adb), average 0.15 % and Calorific Value 5245 –5665 cal/gr, 5540 cal/gr.
Coal resources until 100 m depth and minimum thicknessof the coal seam 1,0 m is about 2,371
million tons, that consist of 1,743 million tons as hypothetical resources and 627.8 million tons as
inferred resources. Coal deposits in this area have a big resources and clean quality but the problem is
in transportation.
SARI
Wilayah Kabupaten KutaiTimur bagian barat, provinsi Kalimantant Timur merupakan salah
satu daerah yang memiliki potensi endapan batubara yang menarik. Daerah ini secara geologi termasuk
ke dalam Cekungan Kutai bagian Utara yang tersusun oleh seri batuan sedimen Tersier mulai Eosen
hingga Mio-Pliosen. Stratigrafi daerah ini dari batuan tua ke muda adalah Formasi Marah, Formasi
Batuayau,Formasi Wahau dan Formasi Balikpapna. Kegiatan tektonik pda Oligosen, Miosen dan
Pliosen membentuk ketidakselaraan antara ketiga formasi terakhir.
Formasi pembawa batubara di daerah ini adalah Formasi Batuayau, Formasi Wahau dan
Formasi Balikpapan. Lapisan-lapisan batubara secara umum terbentuk pada struktur lipatan khususnya
inklin dengan arah sumbu Utara – Selatan sampaiTimurlaut – Baratdaya.Terdapat dua hingga lima
lapisan batubara utama denga ketebalan maksimum mencapai 26,80 m.
Kualitas batubara pada ketiga formasi di daerah ini tidak memperlihatkan perbedaan yang
cukup signifikan. Batubara Formasi Batuayau memiliki kandungan abu antara 2,26 – 9,37 % (adb) atau
rata-rata 5,81% , Kandungan belerang antara 0,15 – 0,35 % (adb) atau rata-rata 0,21% dan Nilai Kalori
antara 5100 -5620 kal/gr atau rata-rata 5440 kal/gr. Batubara Formasi Wahau memiliki kandungan abu
antara 2,28-12,40% (adb) atau rata-rata 4,96%, Kandungan belerang antara 0,11-0,45% (adb) atau
rata-rata 0,17% dan Nilai Kalori antara 4870 -5595 kal/gr atau rata-rata 5375 kal/gr. Batubara Formasi
Balikpapan memiliki kandungan abu antara 3,28 – 5,21% (adb) atau rata-rata4,19 %, Kandungan
belerang antara 0,11 – 0,18% (adb) atau rata-rata 0,15% dan Nilai Kalori antara 5245 – 5665 kal/gr
atau rata-rata 5540 kal/gr.
Sumberdaya batubara daerah ini dihitung sampai kedalaman 100 m dan batas ketebalan
batubara minimal 1,0 m adalah sekitar 2,371 milyar ton, dengan rincian 1,743 milyar ton dikategorikan
Kolokium Hasil Lapangan – DIM, 2005
3-2
sebagai sumberdaya hipotetik dan 627,8 juta ton sebagai sumberdaya tereka. Endapan batubara di
daerah ini dari segi sumberdaya terhitung cukup besar dan dari segi kualitas tergolong batubara bersih
dan ramah lingkungan namun salah satu kendala untuk pemanfaatannya adalh mahalnya biaya
transportasi karena lokasinya yang jauh dari pantai.
.
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Batubara selama ini merupakan salah
satu komoditi bahan galian yang telah
banyak memberikan kontribusi dalam
penerimaan devisa negara maupun peranannya
dalam menggerakkan roda perekonomian
nasional. Salah satu daerah penghasil batubara
yang cukup penting adalah Provinsi Kalimantan
Timur. Provinsi ini sampai saat ini merupakan
daerah dengan produksi batubara terbesar di
Indonesia dan daerah nomor dua besar dalam
hal potensi sumberdaya batubara.
Berbicara mengenai endapan batubara
di Kalimantan Timur tidak terlepas dari
keberadaan beberapa cekungan dan formasi
pembawa batubara di daerah ini, salah satu
cekungan yang terpenting adalah Cekungan
Kutai. Tulisan ini berusaha menampilkan
informasi mengenai prospek sumber daya
batubara di salah satu wilayah di Provinsi
Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Kutai
Timur bagian barat yang merupakan bagian dari
Cekungan Kutai. Materinya sebagian besar
merupakan rangkuman dari tiga kegiatan
inventarisasi batubara bersistem masing-masing
di daerah Long Lees, Marah Haloq dan Long
Nah, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi
Kalimantan Timur. Kegiatan tersebut
merupakan bagian dari program DIK-S batubara
tahun anggaran 2005.
1.2. Maksud dan Tujuan
Tulisan ini bermaksud untuk
memberikan informasi awal mengenai potensi
endapan batubara di daerah Kabupaten Kutai
Timur bagian Barat antara lain meliputi
penyebaran, sumberdaya, kualitas, dan faktorfaktor
lainnya yang diperlukan dengan harapan
nantinya dapat dilanjutkan dengan dengan
1.3. Lokasi
Daerah Long Lees, Marah Haloq, Long
Nah dan sekitarnya secara administratif
menempati wilayah tiga kecamatan : Busang,
Baturedi dan Muaraancalong, Kabupaten Kutai
Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Secara
geografis terletak antara :
1. 116°30’00’’ – 116°45’00’’ BT dan
00°45’00’’- 01°00’00’’LS
2. 116°45’00’’ – 117°00’00’’ BT dan
00°45’00’’ -01°00’00’’ LS
3. 116°30’00’’ – 116°45’00’’ BT dan
Daerah ini terletak lebih kurang 220 km ke
arah Baratlaut kota Samarinda atau sekitar 200
km ke arah barat Sangata. Pencapaian lokasi
dengan jalan darat yaitu melalui jalur Samarinda
– Sebulu – Lokasi, memakan waktu lebih
kurang 6-7 jam.
II. KEADAAN GEOLOGI
Daerah Long Lees, Marah Haloq, Long
Nah dan sekitarnya tertera pada peta geologi
Lembar Muaraancalong, Kalimantan, skala 1 :
250.000 (Atmawinata, dkk, 1995). Daerah ini
merupakan bagian dari Cekungan Kutai yang
tersusun oleh seri batuan sedimen Tersier mulai
Eosen hingga Pliosen. Pengendapan Tersier
dipisahkan oleh tiga fase tektonik yaitu
Oligosen, Miosen dan Pliosen. Batuan Tersier
pengisi cekungan dari tua ke muda adalah
Formasi Marah, Formasi Batuayau, Formasi
Wahau dan Formasi Balikpapan. Endapan
batubara ditemukan pada ketiga formasi terakhir
2.1. Tatanan Tektonik
Mengacu kepada konsep tektonik
lempeng (Katili, 1978, dan Situmorang, 1982)
Cekungan Kutai di Kalimantan merupakan
cekungan busur belakang atau back arch di
bagian barat yang terbentuk akibat tumbukan
antara lempeng benua dan lempeng samudera.
Peregangan di Selat Makassar sangat
mempengaruhi pola pengendapan terutama pada
bagian timur cekungan.
2.2. Stratigrafi
Cekungan Kutai terisi oleh seri batuan
sedimen pengisi cekungan diperkirakan
mencapai tebal sekitar 7500 m yang
diendapkan mulai dari lingkungan delta, laut
dangkal hingga laut dalam.
Sedimentasi yang terjadi mulai Eosen
hingga Pliosen menghasilkan seri batuan
sedimen yang antara lain terdiri atas Formasi
Marah, Formasi Batuayau, Formasi Wahau dan
Formasi Balikpapan . Terjadi tiga proses
tektonik pada Oligosen, Miosen dan Pliosen
menyebabkan ketidakselarasan antara
Kolokium Hasil Lapangan – DIM, 2005
3-3
pengendapan Formasi Batuayau, Formasi
Wahau dan Formasi Balikpapan.
Formasi Marah merupakan formasi
tertua pengisi cekungan pada Lembar
Muaraancalong. Formasi Marah tersusun oleh
perselingan napal dan batulempung bersisipan
batugamping. Formasi ini berumur Eosen Akhir
dan diendapkan di lingkungan sublitoral dalam.
Formasi Batuayau terletak selaras di
atas Formasi Marah. Formasi ini umumnya
tersusun oleh batupasir, batulumpur, batulanau
dan sedikit batugamping. Setempat terdapat
sisipan batubara, lempung karbonan dan
gampingan. Formasi ini berumur Eosen Akhir
dan diendapkan di lingkungan delta hingga laut
dangkal – terbuka.
Formasi Wahau menindih tak selaras
Formasi Batuayau. Formasi ini tersusun oleh
perselingan batulempung, batupasir kuarsa,
batupasir lempungan dan batulempung pasiran,
setempat terdapat sisipan batubara. Pada bagian
bawah dari formasi ini disisipi oleh
batugamping. Formasi ini diperkirakan berumur
Miosen Tengah dan diendapkan di lingkungan
laut dangkal – darat.
Formasi Balikpapan diendapkan tak
selaras di atas Formasi Wahau. Batuan
penyusunnya terdiri atas batupasir kuarsa,
batulempung bersisipan batulanau, serpih,
batugamping dan batubara. Formasi ini berumur
Miosen Tengah dan diendapkan di lingkungan
delta – litoral hingga laut dangkal.
2.2. Struktur
Struktur geologi yang berkembang
pada Lembar Muaraancalong adalah struktur
sesar dan lipatan. Struktur sesar umumnya
berarah Baratlaut – Tenggara dan Timurlaut –
Baratdaya, sedangkan lipatan berupa sinklin dan
antiklin yang umumnya berarah hampir Utara –
Selatan.
III. POTENSI ENDAPAN BATUBARA
Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu
dari formasi pembawa batubara di daerah ini
adalah Formasi Batuayau (Eosen), Formasi
Wahau (Oligo-Miosen) dan Formasi Balikpapan
(Mio-Pliosen).
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari
uraian terdahulu adalah sebagai berikut :
1. Daerah inventarisasi secara geologi
termasuk ke dalam Cekungan Kutai yang
tersusun oleh seri batuan sedimen Tersier
dari Formasi Marah, Formasi Batuayau,
Formasi Wahau dan Formai Balikpapan
yang berumur mulai Eosen hingga Pliosen.
Tektonik pada Oligosen, Miosen dan
Oliosen menyebabkan ketidakselarsan
antara Formasi Batuayau, Formasi Wahau
dan Formasi Balikpapan.
2. Formasi pembawa batubara adalah
Formasi Batuayau, Formasi Wahau dan
Formasi Balikpapan.
3. Terdapat dua sampai lima lapisan batubara
dengan ketebalan maksimum mencapai
26,8 m
4. Kualitas batubara dicerminkan dengan
kisaran kandungan abu (Ash, adb),
kandungan belerang(St, adb) dan nilai
kalori (CV,adb) dan kisarannya untuk
masing-masing formasi adalah Formasi
Batuayau : Ash 3,18-9,39%, St 0,17-
0,35%, CV 5100-5255 kal/gr. Formasi
Wahau : Ash 2,58-6,11%, St 0,11-0,15%,
CV 5405-5510 kal/gr. Formasi
Balikpapan : Ash 3,28-3,78 %, St 0,11-
0,18%, CV 5245-5500 kal/gr.
Berdasarkan klasifikasi ASTM batubara di
daerah ini digolongkan ke dalam Lignit.
5. Sumberdaya batubara dengan batasan
kedalaman 100 m dan ketealan minimal
1,0 m adalah sebesar 2,371 milyar ton
yang terdiri atas sumberdaya hipotetik
1,743 juta ton dan sumberdaya tereka
sebesar 627,8 juta ton.
6. Daerah ini mempunyai potensi
sumberdaya batubara tergolong cukup
besar dengan kualitas batubara termasuk
batubara bersih dan ramah lingkungan
namun lokasinya yang jauh dari pantai
menimbulkan kendala dalam mahalnya
biaya transportasi.
DAFTAR PUSTAKA
Atmawinata, S., Ratman, N., 1995, Peta
Geologi Lembar Muaraancalong, Kalimantan,
skala 1 : 250.000,
Puslitbang Geologi, Bandung.
Ilyas, S., 1997, Eksplorasi Endapan Batubara di
Daerah Muarawahau dan Sekitarnya, Kabupaten
Kutai,
Provinsi Kalimantan Timur, DIM,
Bandung.
Ilyas, S., 2003, Inventarisasi Endapan Batubara
Bersistem di Daerah Muarawahau dan
Sekitarnya,
Kabupaten Kutai Timur, Provinsi
Kalimantan Timur, DIM, Bandung.
Luki Samuel, Muchsin, S., 1975, Stratigraphy
and Sedimentation in the Kutai Basin,
Kalimantan,
Kolokium Hasil Lapangan – DIM, 2005
3-4
Proceeding Indonesian Petroleum
Association, 4th Annual Convention, Jakarta,
page 27-39.
Robertson Research, 1978, Coal Resources of
Indonesia.

Aug

12

Perkebunan Kelapa Sawit
Posted by isnaini

Pulau Kalimantan memang dianugerahi berbagai macam sumber daya alamnya dan lahan perkebunan yang luas. Kelapa sawit salah satunya. Usaha perkebunan kelapa sawit merupakan potensi bisnis perkebunan kalimantan yang sangat menguntungkan. Kelapa sawit sangat bermanfaat mulai dari industri makanan sampai industri kimia.

Industri makanan mentega, shortening, coklat, additive, ice cream, pakan ternak, minyak goreng, produk obat–obatan dan kosmetik, krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin and beta carotene juga memerlukan minyak sawit.

Industri berat dan ringan, industri kulit (untuk membuat kulit halus dan lentur dan tahan terhadap tekanan tinggi atau temperatur tinggi), cold rolling and fluxing agent pada industri perak, dan juga sebagai bahan pemisah dari material cobalt dan tembaga di industri logam juga membutuhkan bahan baku dari hasil kelapa sawit.

Bahkan minyak sawit dibutuhkan juga untuk industri kimia seperti detergen, sabun, dan minyak. Sisa-sisa dari industri minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler, bahan semir furniture, bahan anggur.

Produk Utama Kelapa Sawit
Produk turunan CPO bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi minyak goreng kelapa sawit, margarine, shortening, vanaspati (Vegetable ghee), ice creams, bakery fats, instans noodle, sabun dan detergent, cocoa butter extender, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, sugar confectionary, biskuit cream fats, filled milk, lubrication, textiles oils dan bio diesel.

Produk turunan minyak inti sawit bisa dipasarkan untuk perusahaan yang memproduksi shortening, cocoa butter substitute, specialty fats, ice cream, coffee whitener/cream, sugar confectionary, biscuit cream fats, filled mild, imitation cream, sabun, detergent, shampoo dan kosmetik.

Ampas Tandan Kelapa Sawit Bisa Dimanfaatkan
Selain minyaknya, ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kalium dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan.

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk organik, pupuk kompos maupun pupuk kalium. Fungsi lain TKKS juga sebagi bahan serat untuk bahan pengisi jok mobil dan matras, dan polipot.

Pelepah pohon dan CPO dapat dijadikan ekstrak untuk Vitamin E. Batang pohon dapat dijadikan “fiber board” untuk bahan baku mebel, kursi, meja, lemari dan sebagainya. Ampas tandan/buangan sisa pabrik dapat dijadikan serbuk pengisi kasur, bantalan kursi, dan sebagainya.

Pasar Kelapa Sawit
Secara historis pertumbuhan produksi minyak sawit dunia selama dua dasawarsa terakhir ini mengalami kenaikan sekitar 7,3% pertahun. Perkembangan minyak sawit dunia ini sangat dipengaruhi oleh produksi minyak sawit dari negara Malaysia dan Indonesia yang memberikan kontribusi sebesar 80% dari produksi dunia.

Berdasarkan data Oil Word diperkirakan produksi CPO lima tahun ke depan akan meningkat tapi lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi masyarakat dunia. Tingkat produksi CPO dunia masih dikuasai oleh Malaysia dengan pengusaan 50% market dunia, sedangkan Indonesia berada pada tingkat kedua dengan 30% penguasaan market dunia. Saat ini Indonesia dan Malaysia merupakan produsen utama CPO dunia dengan menguasai lebih dari 80% pangsa pasar.

Negara-negara produsen lainnya, seperti Nigeria, Kolombia, Thailand, Papua Nugini, dan bahkan Pantai Gading, boleh dibilang hanya menjadi pelengkap. Malaysia menempati peringkat teratas dengan volume produksi pada 2003 mencapai 13,35 juta ton. Sementara Indonesia masih 9,75 juta ton. Menurut ramalan Oil World, volume produksi CPO Indonesia pada 2010 bakal mencapai 12 juta ton.

Namun, agaknya ramalan itu bakal meleset. Sebab, pada 2004 saja volume produksi CPO Indonesia sudah mencapai 11,5 juta ton. Itu sebabnya banyak kalangan optimis volume produksi CPO Indonesia bakal segera mengalahkan Malaysia, terlebih jika melihat luas lahan di Malaysia yang kian terbatas, sementara di Indonesia masih begitu luas.
Produksi minyak sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri pangan terutama industri minyak goreng dan industri non pangan seperti industri kosmetik dan farmasi. Namun, potensi pasar paling besar adalah industri minyak goreng.

Potensi tersebut terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang berimplikasi pada pertambahan kebutuhan pangan terutama minyak goreng. Sampai tahun 1997 produksi minyak goreng Indonesia baru mencapai 3,1 juta ton dengan kontribusi minyak goreng sawit 2,3 juta ton (74 %). Kebutuhan untuk memproduksi minyak goreng sawit sebesar itu memerlukan 3,3 juta ton minyak sawit.

Penetapan Harga
Pada dasarnya, ada 2 kekuatan besar yang berpengaruh pada pembentukan harga komoditas kelapa sawit, yaitu kekuatan pasar (marketing forces) dan pengendalian oleh pemerintah (government intervention).

Dengan demikian, penetapan harga kelapa sawit didasarkan pada kekuatan pasar, tingkat persaingan dan juga pengendalian pemerintah. Setelah itu penetapan harga kelapa sawit harus disesuaikan dengan harga jual dalam dan luar negeri, dengan perincian sebagai berikut:

1. Harga jual dalam negeri.
Kedudukan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku minyak goreng yang merupakan 9 bahan pokok menyebabkan pemerintah tidak berlepas tangan. Disini perusahaan perkebunan kelapa sawit berhadapan dengan pihak prosesor, yang oleh pemerintah sudah ditentukan bahwa harga jual produksi prosesor dalam bentuk minyak goreng harus terjangkau oleh rakyat, sehingga mau tidak mau perusahaan harus menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah tersebut.

2. Harga jual luar negeri.
Penetapan harga dilakukan dengan cara open tender atau dengan cara competitive bidding. Demi kelancaran perluasan pasar dan pengamanan terhadap risiko sengketa, risiko claim, atau hal-hal lain yang dapat merugikan, dalam kontrak penjualan akan menggunakan ketentuan yang telah diatur oleh International Trade Association (Asosiasi Komoditi International). Dengan adanya faktor-faktor penetapan harga tersebut diatas, perusahaan kelak akan terus meneruskan melakukan penghematan biaya produksi guna menghasilkan marjin laba yang signifikan

Risiko Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit
1. Pencurian Hasil Panen
Lahan budidaya yang luas dan jumlah kelapa sawit yang banyak mengakibatkan susahnya pengawasan dan pengontrolan. Pencurian dan penjarahan hasil panen selalu saja terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya pengamanan yang ekstra. Tetapi untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

2. Gagal Panen
Penyakit dalam bentuk jamur, gulma dan hama yang menyerang pada perkebunan kelapa sawit sangat sulit dihilangkan dan bisa menular ke seluruh areal perkebunan, sehingga mengakibatkan gagal panen.

3. Harga yang Naik Turun
Harga pasar sewaktu-waktu dapat naik dan turun karena kelapa sawit merupakan komoditas yabg harganya mengikuti pasar di dunia dan kebijakan pemerintah. Hal ini bisa berdampak bagi siapapun yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

Aug

12

Hello world!
Posted by isnaini

Welcome to Student Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Search

Archives

  • Categories

  • tanggal

    December 2014
    M T W T F S S
    « Aug    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
    Copyright © 2014 Kabupaten Paser - Just another Student Blogs weblog
    Powered by WordPress using a Free Biolery Wordpress Theme. Subscribe to our RSS
    Biofuel, Wood Pellets, Wood Pellet Stoves